Internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah telah terdengar sejak tahun 2015. Hingga tahun 2018, sistem yang terlalu dini masih saja menimbulkan lubang tersendiri.

Kurun pembayaran tagihan semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 lalu—saat  menginjak Ujian Tengah Semester (UTS)—menjadi hal yang membingungkan bagi mahasiswa internasional Program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017. Pasalnya, besar tagihan yang harus mereka bayarkan tidak muncul pada laman tagihan.uii.ac.id.

Alfi Wahyu Zahra, salah seorang mahasiswi internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2017 menuturkan, sebelum UTS semester ganjil tahun ajaran 2018/2019, dirinya telah menghubungi Sekretaris Prodi Internasional Program Ahwal Al-Syakhshiyah Miqdam Makfi untuk menanyakan perihal tersebut.

Pada tujuh hari sebelum tenggat pembayaran tagihan, Alfi selalu berkonsultasi kepada Miqdam Makfi. Ia menanyakan mengapa besaran tagihan mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 belum muncul pada laman tagihan.uii.ac.id, sedang di waktu yang sama, besaran tagihan untuk program reguler telah muncul.

Sehari menjelang tenggat pembayaran tagihan, Alfi masih selalu berkonsultasi karena besaran tagihan belum muncul juga. Menurut penuturannya, ia diimbau untuk mempersiapkan uang pembayaran tagihan dengan besaran dipadankan program reguler Ahwal Al-Syakhshiyah terlebih dahulu.

Tenggat pembayaran tagihan berlalu, namun tetap tidak ada titik terang. Kala itu Prodi mengeluarkan kebijakan memperbolehkan mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 mengambil kartu ujian dan melaksanakan ujian tengah semester tahun ajaran 2018/2019 tanpa melakukan pembayaran tagihan sebelumnya.

“Akhirnya, diperbolehkan untuk mengambil kartu ujian tanpa membayar uang UTS,” terang Alfi.

Ikhtiar serupa juga dilakukan Sulaiman Refo, teman satu angkatan Alfi. Mahasiswa yang pada semster ganjil lalu menginjak semester tiga ini, terus mencari titik terang hingga menayakan perihal itu kepada Kepala Prodi Ahwal Al-Syakhshiyah Amir Mu’allim.

Di temui di kontrakannya, Refo mengungkapkan, tidak munculnya besaran tagihan pada laman tagihan.uii.ac.id di semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 lalu merupakan kali pertama. “Dari semester satu aman. Semester dua aman. Angsuran selanjutnya ini, yang UTS semester tiga, yang engga aman.”

Ia dari konsultasinya dengan Amir Mu’alim meceritakan, jika tidak muculnya besaran tagihan ini berhubungan dengan adanya kenaikan besaran tagihan, prodi berupaya agar besarannya tidak dipadankan dengan tagihan mahasiswa program internasional Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2018—yang jumlahnya 2 juta Rupiah lebih banyak dibaryarkan tiap tahun.

Sedang dari perbincangannya dengan Miqdam Makfi, ia mendapatkan informasi besaran tagihan untuk internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 akan dinaikan oleh pihak univerisitas, dalam hal ini rektorat.

“Saya sebisa mungkin tidak ada tambahan. Tapi kalau ada tambahan kamu siap-siap,” terang Refo menirukan perkataan Miqdam Makfi.

Alfi pun membenarkan besaran tagihan untuk mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 isu-isunya akan dinaikan kala itu. Bahkan untuk menyikapi kenaikan tagihan tersebut, ia telah diimbau kembali untuk menyiapkan uang sejumlah 5 juta Rupiah.

Berdasar keterangan Alfi, pihak prodi selalu melakukan koordinasi agar kenaikan besaran tagihan tidak terjadi. Hal itu, menurutnya, karena prodi memiliki sebuah “perjanjian” dengan mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakshiyah angkatan 2016 dan 2017. Perjanjian itu salah satu isinya ialah besaran tagihan yang harus mereka bayarkan sama dengan program reguler, namun apabila ada tambahan harus siap menerimanya.

“Soalnya diperjanjian awalnya kayak gitu,” terang Alfi.

Perjanjian awal yang dimaksud Alfi ialah perjanjian ketika kali pertama ia dan mahasiswa program internasional Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 setuju untuk mengikuti program itu. Sebelumnya, mereka merupakan mahasiswa program reguler Ahwal Al-Syakshiyah.

Kepala Bidang Akademik FIAI Mabdaul Bashar menyatakan, tidak munculnya besaran tagihan tersebut dikarenakan bagian keuangan pusat belum memiliki landasan. Landasan yang dimaksud ialah SK dari rektor tentang besaran tagihan bagi mahasiswa program internasional Ahwal Al-Syakshiyah angkatan 2016 dan 2017 agar tidak dikenai additional tuition fee atau biaya tambahan.

Perlu diketahui bahwa setiap mahasiswa internasional program akan dikenai biaya tambahan. Tiap fakultas dan jurusan memiliki besaran biaya tambahan yang berbeda-beda. Untuk mahasiswa program internasional Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017, aturan tentang biaya tambahan ini lah yang tidak sejalan dengan “perjanjian” mereka dengan Prodi.

Untuk itu, agar ada pengecualian pada besaran tagihan mahasiswa program internasional Ahwal Al-Syakhshiyah angktan 2016 dan 2017, prodi harus mengajukan surat ke rektorat. Saat tim Pilar Demokrasi menemui Miqdam pada Jumat (04/01/2019), ia mengaku pihaknya telah mengajukan surat tersebut.

“Itu (SK Rektor) yang sampai sekarang masih saya tunggu. Ya kami mohon maaf karena belum ada kejelasan. Insya Allah kita kejar terus karena saya juga tahu di masa transisi, di masa peralihan semester seperti ini, pasti mereka (rektorat) juga sedang ribet,” kata Miqdam kala itu.

Tim Pilar Demokrasi juga sempat menghubungi Noor Endah Cahyawati, Direktur Direktorat Keuangan dan Anggaran UII melalui media Whatsapp. Dalam pesannya kepada kami, ia membenarkan adanya masalah teknis terkait besaran tagihan mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017.

Ia juga menyampaikan permasalahan tersebut akan diselesaikan selambat-lambatnya tanggal 21 Januari 2018 bersamaan dengan keluarnya besaran tagihan untuk angsuran kedua. “Jadi nanti, pada angsuran kedua, saudara punya kewajiban bayar angsuran satu dan angsuran dua,” tulis Noor Endah pada pesan yang kami terima.

Noor Endah sempat mengiyakan ketika kami meminta izin untuk melakukan wawancara langsung kepadanya. Namun, saat kami menanyakan kapan dan di mana dapat melakukan wawancara, pesan yang kami kirim hanya dibaca dan tidak dibalas hingga laporan ini diterbitkan.

Hasilnya, pada tanggal 21 Januari 2018, besaran tagihan mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 muncul juga. Ada dua tagihan yang harus mereka bayarkan. Tagihan semester ganjil 2018/2019 ketika menjelang ujian tengah semester lalu dan tagihan ketika memasuki semester genap 2018/2019. Dari dua tagihan itu, tidak ada kenaikan besaran tagihan alias sama dengan besaran tagihan program reguler.

“Engga enak sama orang tua karena sudah suruh mempersiapkan tapi malah belum dibayarkan,” ujar Alfi menanggapi keterlambatan munculnya besaran tagihan tersebut.

Menurut Refo, ketika munculnya besaran tagihan semester ganjil tahun 2018/2019—menjelang ujian tengah semester lalu—terlambat dan digabung dengan besaran tagihan saat memasuki semester genap 2018/2019, akan menimbulkan permasalahan tersendiri.

Key-in Program Internasional

Hampir serupa dengan persoalan tidak munculnya besaran tagihan di laman tagihan.uii.ac.id, sebelumnya mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 juga menemui persoalan pada sistem key-in. Tepatnya pada sistem key-in semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 lalu.

Refo menyampaikan, pada key-in semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 lalu, kelas dengan inisial I tidak tercantum saat proses key-in. Inisial I tersebut merujuk pada kelas yang dikhususkan untuk mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah.

“Kemarin itu kami bingung. Sampai waktu key-in, kelas IP (internasional program) itu engga tercantum waktu di proses key-in,” terang mahasiswa yang tinggal sepelemparan batu dari kediaman Miqdam Makfi ini.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah seorang mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakshsiyah angkatan 2016 Harunian Ahmad. Selain mengeluhkan berkaitan dengan key-in semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 yang tidak tercantum inisial kelas I, ia juga mengeluhkan berkaitan dengan kepastian mata kuliah untuk internasional program, “IP kan tahun ini cuma satu mata kuliah, jadi ya buat apa IP kalau cuma satu mata kuliah,” keluhnya.

Miqdam mengungkapkan, sistem program internasional Ahwal Al-Syakhshiyah dahulunya tidak terintegrasi dengan universitas. “Ternyata waktu itu kita engga jadi satu sama mereka (universitas) karena ada satu-dua hal yang harus dipertimbangkan.”

Sistem internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah baru terintegrasi dengan universitas pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 lalu. Sebelumnya sistem program internasional ini masih nimbrung dengan sistem program reguler Ahwal Al-Syakhshiyah.

Sistem yang telah terintegrasi menjadi satu dengan universitas membuat internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah memiliki homebase sendiri, tidak nimbrung lagi dengan homebase program reguler. Menurut Miqdam, adanya masa adaptasi merupakan salah satu ihwal tidak tercantumnya inisial I saat proses key-in kala itu.

Dari keterangan Mabdaul, pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019, karena dalam masa transisi, prodi belum menyiapkan dosen tersendiri. Hal itu menyebabkan ada beberapa kelas yang masih bergabung dengan program reguler.

Ia mengaku, pihak akademik akan mengalami kesulitan ketika program internasional Ahwal Al-Syakhshiyah tidak membuat kelas tersendiri. “Ketika itu prodi tidak memberi tahu kalau kelas ini gabungan antara IP dengan reguler. Sehingga ketika itu kita tidak menawarkan yang IP-nya karena di sistemnya harus setting kalau itu kelas gabungan,” kata Mabdaul.

Kala itu mahasiswa internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah angkatan 2016 dan 2017 diberikan solusi untuk mencatat nama dan matakuliah yang akan masing-masing mahasiswa ambil. Kemudian dari daftar nama itu lah, oleh prodi disetorkan ke bagian akademik untuk nantinya bagian akademik akan key-in kan secara manual.

Mabdaul pun mengungkapkan, internasional program Ahwal Al-Syakshiyah telah memiliki kode prodi tersendiri dengan nomor kode 424. Sebelumnya kode prodi mereka sama dengan kode prodi program reguler, yakni 421. Sehingga kedepannya sistem key-in internasional program Ahwal Al-Syakhshiyah tidak campur lagi dengan program reguler.

“Itu yang kemudian semoga kedepan nanti mampu menjadi solusi dari beberapa masalah, termasuk key-in,” kata Miqdam yang baru menjabat sebagai Sekretaris Prodi Internasional Program Ahwal Al-Syakhshiyah pada Agustus 2018 lalu.

 

Penulis: Iqbal Firdaus

Editor: Muhammad Ikram

Reportase bersama: Muhammad Ikram, Arviyan Wisnu, dan Reza Maraghi

Ilustrasi oleh: Iqbal Firdaus

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *