Sebuah sebutan atau klaim yang menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara agraris, agaknya sudah menjadi “pengetahuan” umum di dalam berbagai kalangan masyarakat. Terlebih doktrin yang menyatakan klaim serupa telah diajarkan kepada masyarakat sejak masih dalam bangku sekolah dasar.

Dengan menyatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris di mana mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani bukanlah pernyataan yang tidak memiliki alasan. Apabila ditinjau secara historis, yang melatarbelakangi terjadinya berbagai inovasi oleh beberapa negara Uni Eropa seperti Belanda dan Portugis terhadap negara Indonesia, maka yang menjadi alasan terkuat negara-negara tersebut untuk menguasai Indonesia adalah karena adanya hasrat untuk menguasai kekayaan alam serta hasil perkebunan khas Indonesia.

Terlebih catatan sejarah yang menyatakan bahwa ada satu periode di mana negara Indonesia telah berhasil melakukan swasembada pangan hingga melakukan ekspor hasil pertanian ke luar negeri, maka berangkat dengan berbagai peristiwa dalam sejarah inilah secara tidak langsung telah mengukuhkan klaim atas Indonesia sebagai negara agraris, di mana hasil pertanian berperan penting sebagai penopang utama ekonomi bangsa pada waktu itu.

Namun seiring berjalannya waktu, negara Indonesia tumbuh sebagai negara yang melakukan berbagai bentuk modernisasi serta industrialisasi di berbagai sektor yang berpeluang dalam menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi serta menggerus nilai agraris bangsa Indonesia dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, adanya konsep modernisasi dalam pembangunan negara juga sangatlah penting, karena salah satu tolak ukur dari negara maju adalah bagaimana negara tersebut dapat melakukan pembaharuan dalam bentuk modernisasi terhadap upaya pembangunan negara itu sendiri.

Namun sayangnya, rencana serta berbagai bentuk modernisasi pembangunan negara, tidak selamanya bekerja pada sektor pertanian dan agraria. Minimnya alat produksi pertanian yang terjangkau menyebabkan tingginya biaya pemanfaatan teknologi pertanian. Hal ini pula yang mengakibatkan pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian mengalami ketidakmerataan.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian saat ini, bisa jadi karena tidak ada kerjasama secara langsung antara pemerintah dan masyarakat, khususnya buruh tani. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana masyarakat memberi pandangan terhadap profesi pada sektor pertanian hari ini, dimana dalam pandangan masyarakat, sektor pertanian bukanlah jenis pekerjaan yang prestisius dan membanggakan.

Adapun pandangan negatif yang dibangun masyarakat saat ini terhadap profesi petani, bukanlah sebuah pernyataan yang dibangun tanpa alasan, rendahnya penghasilan, sulitnya akses permodalan, keterbatasan lahan serta tingginya biaya produksi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh petani hari ini. Tentu pandangan semacam ini, secara tidak langsung dapat mengancam atas keberlanjutan serta regenerasi petani.

Hal ini diperburuk dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh BPS yang menyatakan bahwa lebih dari 60 persen petani di Indonesia telah berumur lebih dari 65 tahun dan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, jumlah penurunan angka petani di Indonesia mencapai pada angka 5 juta petani. Terlebih yang menjadi ironi adalah begitu banyaknya lulusan sarjana jurusan pertanian yang enggan turun langsung untuk dapat membangun serta mengembangkan pertanian bangsa Indonesia.

Di mana seharusnya, harapan yang tersematkan pada lulusan sarjana pertanian adalah kemampuan mereka dalam menerapkan modernisasi pertanian dalam bentuk pemanfaatan teknologi terbarukan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Tentu bukan  peristiwa yang wajar bagi negara apabila meng-klaim dirinya sebagai negara agraris, namun di waktu yang bersamaan negara tidak hadir dalam upaya mensejahterakan petani, padahal petani adalah salah satu pilar pembangun ekonomi negara.

Apabila mengacu pada kebutuhan petani hari ini, tentu yang diharapkan adalah bagaimana negara hadir dalam memberikan kemudahan atas akses permodalan, memberikan pemerataan atas pemanfaatan teknologi sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Bahkan yang paling penting adalah negara hadir dalam upaya untuk meningkatkan tingkat kepercayaan generasi muda terhadap masa depan serta keberlangsungan pertanian.

Penulis: Vitaro Khasbi Assidiqi (Mahasiswa Ekonomi Islam UII 2016)

Editor: Mu’arifatur Rahmah

*)Opini ini merupakan tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi LPM Pilar Demokrasi.

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *