Pandemi Coronavirus Disease 2019  (covid-19) membawa malapetaka bagi seluruh sistem pendidikan khususnya dalam perguruan tinggi. Pasalnya, perkuliahan yang biasanya dilakukan di dalam kampus, kini dialihkan menjadi pembelajaran daring. Kebijakan ini ditetapkan demi mencegah terjadinya kerumunan massa yang dikhawatirkan dapat menyebarluaskan virus korona.

Universitas Islam Indonesia (UII) merupakan salah satu perguruan tinggi yang melaksanakan pembelajaran secara daring. Hal ini berdasarkan Surat Edaran Rektor UII Nomor: 1080/Rek/10/SP/III/2020, di mana segala bentuk kegiatan baik akademik maupun non akademik, yang memerlukan pertemuan fisik di lingkungan kampus UII ditiadakan. Kebijakan ini berlaku sejak tanggal 24 Maret hingga 15 April 2020 dan diperpanjang sampai 7 Juni 2020. Bahkan beberapa waktu lalu, rektorat UII kembali mengedarkan Surat Edaran Rektor Nomor: 1769/Rek/10/SP/V/2020 terkait perpanjangan pembelajaran daring dan kerja dari rumah hingga akhir Semester Genap Tahun Akademik 2019/2020 atau 24 Juli 2020.

Akan tetapi, adanya penerapan pembelajaran secara daring selama masa pandemi covid-19, ternyata menyimpan beban tersendiri bagi sebagian mahasiswa. Pasalnya, beberapa kendala mulai dari susah sinyal dan terbatasnya kuota internet menjadi keluhan mahasiswa saat melaksanakan perkuliahan online. Kondisi inilah yang membuat perkuliahan tidak berjalan secara maksimal.

“Jaringan di desa saya lumayan sulit.  Jadi setiap kelas, saya harus ke rumah saudara saya yang punya jaringan lebih baik, kurang lebih 5 km dari rumah saya. Selain itu, saya lebih terbiasa untuk belajar bareng temen, karena kurang ngerti penjelasan dosen. Jadi belajar dalam keadaan kayak gini, lumayan ngebuat saya keteteran. Kadang buat ngedownload tugas juga sesekali ke tongkrongan WiFi,” ujar Maulaya Hafizdah Afghan, mahasiswa yang bertempat tinggal di Kabupaten Bengkalis, Riau, Program Studi (Prodi) Akuntansi UII.

Kondisi yang sama juga dialami oleh Syahrul Daeng Malewa, mahasiswa Prodi Ahwal Syakhsiyah, “Kalau masalah kuliah daring, di tempat saya memang jaringannya signalnya kurang baik atau kurang bagus. Soalnya di tempat saya adalah kampung pelosok, yang di mana kampung ini sangat jauh dengan perkotaan atau kabupaten atau kecamatan (jauh dari pusat), kami hanya kampung halaman. Jaringannya kalau untuk kuliah daring sendiri itu kita harus mencari jaringannya dengan mencari tempat yang bagus, supaya mendapat jaringan yang bagus juga. Kalau di tempat saya ini yang bagus di pantai, karena berhadapan langsung dengan Pulau Halmahera. Jadi, Pulau Halmahera itu terdapat beberapa kampung dan terletak beberapa tower. Jadi jaringan yang kami dapatkan itu dari Pulau Halmahera itu, yaitu Saketa, Dolik, Poso dan sekitar di situ,” tutur mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Halmahera Selatan tersebut.

Beberapa mahasiswa juga mengaku, bahwa pelaksanaan perkuliahan secara offline dinilai lebih efektif karena materi yang didapat akan lebih mudah dipahami dan dapat leluasa dalam bertanya apabila materi yang disampaikan belum dimengerti.

“Menurut saya offline, karena bisa diajarin secara langsung dan lebih enak kalau bertanya langsung, karena lebih leluasa dan seperti tidak canggung, dan bisa belajar langsung sama teman-teman, beda sama online yang terkadang banyak tugas dan beberapa ada yang tabrakan deadline-nya, juga ngerasa lebih capek banget daripada offline, dan sedikit stress. Menurut saya yang lebih mudah, ya kuliah offline daripada online, karena lebih efektif dalam memahami pelajaran baik dari dosen maupun interaksi antar sesama teman,” kata Sulistiani Indriyastuti mahasiswa prodi Ekonomi Islam UII

Metode yang diterapkan dosen dalam melaksanakan perkuliahan online juga menjadi permasalahan bagi segelintir mahasiswa. Mereka mengeluhkan dosen yang hanya mengirim materi tanpa adanya penjelasan yang dilakukan terhadap materi tersebut.

“Sebagian dosen hanya mengirimkan materi dan tugas bahkan ada dosen yang tidak menjelaskan materi yang diberikan, ya tersebut dan tidak ada perkembangan ataupun perubahan-perubahan terhadap metode dalam pembelajaran daring,” ujar Salman dari Prodi Teknik Informatika UII.

Adanya berbagai macam kendala dalam pembelajaran daring menjadi tantangan bagi para dosen, sehingga mereka tetap dapat menyampaikan materi secara efektif, meski secara online. Para dosen harus menyiapkan metode yang dapat memudahkan mahasiswa agar materi yang diberikan dapat dimengerti oleh para mahasiswa.

“Pembelajaran daring di kampus kita sangat variatif, dan setiap dosen saya kira mempunyai strategi dan trik pembelajaran masing-masing supaya materi bisa tersampaikan dengan baik ke mahasiswa. Ada yang pakai aplikasi google classroom, grup WA, google meeting, instagram live, dan yang paling banyak adalah memakai aplikasi zoom meeting,” jelas Krismono, Sekretaris Program Studi (Sekprodi) FIAI.

Krismono juga menjelaskan beberapa trik agar mahasiswa dapat menerima materi secara jelas. “Sebenarnya itu bisa disiasati kok, berdasarkan pengalaman saya ngajar. Saya kalau ngajar melalui zoom, itu saya rekam. Kemudian setelah kelas usai, hasil rekaman itu saya unggah di google classroom. Sehingga mahasiswa yang terlambat kelas atau tidak bisa mengikuti kuliah karena terkendala sinyal, masih bisa mengikuti kelas melalui hasil rekaman tersebut,” terangnya.

Ia juga menambahkan, “Bisa juga, kelas dibuat tidak selalu tatap muka melalui zoom. Mungkin bisa diselang-seling berupa pemberian tugas yang tidak memberatkan bagi mahasiswa,” lanjutnya.

Praktikum online juga menjadi kendala bagi para dosen yang seharusnya mengajarkannya lewat praktek langsung kepada mahasiswa. Pasalnya, pembelajaran akan sangat sulit jika materi yang didapat tidak dipraktekkan atau dicontohkan oleh dosen terhadap mahasiswa.

“Praktikum juga tetap memiliki sesi live untuk menyediakan ruang interaksi yang efektif, sehingga video yang ditampilkan dapat langsung dikonfirmasi oleh mahasiswa, jika ada yang belum jelas,” ujar dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prodi Kimia, Amri Setyawati.

Menanggapi soal sinyal dan kuota internet terbatas saat melakukan perkuliahan online, Amri Setyawati angkat bicara soal itu. Ia mengatakan bahwa hal-hal teknis yang tidak dapat dikontrol oleh pemangku kepentingan, menjadi keadaan yang seharusnya dapat disikapi secara bijak. Harus sama-sama saling mengerti antara dosen dan mahasiswa.

 

 

Penulis                       : Zidan Alfiqri

Reportase Bersama : Mauliya Redyan Nurjannah, Annisa Cikal Fitri, Itsna Aufa Nafisah, Ahmad Musawwir, Galih Naufal, M. Rayhan Hari Syahputra

Editor                        : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar     : Nabila Qoulan Sadida

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *