Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Pada hari-hari terakhir Ramadhan ini, sudah semestinya kita berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas ibadah puasa kita. Berpuasa artinya menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Melalui pertahanan diri dari semua hal itu, kita belajar menundukkan segala jenis nafsu dan memutus saluran setan dalam memengaruhi manusia agar berbuat dosa.

Namun, puasa Ramadhan pada dasarnya tak berhenti pada soal menahan diri dari lapar, dahaga dan hubungan badan. Ibadah puasa menyimpan makna batiniah yang menembus sampai ke pemaknaan yang begitu mendalam, sehingga kita tersadar betapa banyak rahasia batin, manfaat dan berkah dalam ibadah puasa. Al-Ghazali dalam bukunya Rahasia Puasa & Zakat; Percikan Ihya Ulum Al-Din (2015) membagi puasa menjadi tiga tingkatan, yakni puasa yang umum, puasa yang khusus, dan puasa yang terkhusus dari yang khusus.

Puasa yang umum ialah menahan diri dari nafsu makan, minum, dan nafsu seksual, sedangkan puasa yang khusus adalah di samping menahan dari hal-hal dalam puasa umum, juga menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, serta seluruh anggota badan dari melakukan sesuatu yang mendatangkan dosa. Kemudian tingkatan puasa yang terkhusus dari yang khusus, yakni di samping menahan diri dari hal-hal tersebut, juga meningkat lagi menjadi puasanya hati dari niatan-niatan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta memalingkan diri—secara keseluruhan—dari segala sesuatu selain Allah SWT.

Al-Ghazali menjelaskan, puasa yang terkhusus dari yang khusus adalah puasanya para nabi, shiddiqin (orang-orang yang sangat tulus), dan muqarrabin (orang-orang yang didekatkan ke hadirat-Nya). Adapun puasa yang khusus atau berada di bawah tingkatan dari puasa yang terkhusus di antara yang khusus adalah puasanya orang-orang saleh. Puasanya orang saleh dicapai dengan menahan anggota-anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa.

Jika kita melihat tingkatan-tingkatan puasa dalam pandangan Al-Ghazali tersebut, kita tersadar bahwa sebagian besar kita, atau orang-orang biasa atau awam, masih berkutat pada tingkatan puasa umum, yakni sekadar menahan diri dari nafsu makan, minum dan hubungan badan. Sebab, kita sadar bahwa meskipun sedang berpuasa, kita masih sulit menahan anggota tubuh seperti mulut, mata, telinga, kaki dan tangan dari melakukan hal-hal yang bisa mengarahkan pada dosa.

Meski berpuasa di bulan Ramadhan, kita masih sering menyaksikan bahkan bertindak dan bergunjing satu sama lain. Kita juga masih melihat hal-hal yang tidak sepatutnya kita lihat dan mendengar hal-hal yang tak pantas didengar. Terlebih, hidup di tengah hingar-bingar era internet dan media sosial sekarang, dimana nyaris setiap saat kita bisa dengan mudah terjerumus dalam pandangan, perbincangan dan berbagai aktivitas dunia maya yang bisa mendatangkan dosa.

Kita pun semakin tersadar betapa masih jauhnya amalan puasa Ramadhan kita jika dibandingkan puasanya orang-orang saleh yang sanggup menahan seluruh anggota badan dari tindakan yang mengarah pada dosa. Apalagi jika dibandingkan dengan puasanya para nabi, juga shiddiqin, dan para muqarrabin, yang bahkan sanggup menghadapkan diri, hati, dan pikiran sepenuhnya hanya kepada Allah, serta memalingkan diri dari segala sesuatu selain-Nya.

Belajar

Sebagai umat muslim yang hidup di akhir zaman, kita sadar bahwa puasa kita memang jauh dari puasanya orang-orang saleh, apalagi puasanya para nabi. Namun, bukan berarti kita mesti putus asa dan tidak belajar untuk terus memperbaiki kualitas puasa kita. Setiap bulan Ramadan datang, sudah semestinya kita selalu belajar menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Minimal, jika kita tak bisa mencontoh puasanya orang-orang saleh, kita bisa belajar untuk mendekati kualitas tingkatan puasa khusus. Selain menahan diri dari nafsu lapar, dahaga dan nafsu hubungan badan, sudah semestinya kita juga belajar untuk meningkatkan kualitas dengan menahan seluruh anggota badan dari melakukan tindakan-tindakan yang bisa mengarah pada dosa.

Hal-hal yang dapat memenuhi sempurnanya puasa khusus, jelas Al-Ghazali, ialah menundukkan pandangan dan membatasinya dari sesuatu yang tercela, menjaga lidah dari ucapan sia-sia, dusta, gunjingan, fitnah, caci-maki, menyinggung perasaan orang lain, menimbulkan pertengkaran dan melakukan perdebatan berlarut-larut. Menahan pendengaran dari segala sesuatu yang dibenci oleh agama dan mencegah seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan haram.

Selain itu, ada hal penting yang juga menjadi bagian dari syarat sempurnanya puasa khusus, yakni ketika berbuka hendaknya kita mencukupkan diri dengan makanan halal yang sekedarnya saja. Jangan sampai perut penuh makanan. Al-Ghazali mengajak kita untuk mengingat, “Tak ada wadah yang lebih dibenci Allah daripada perut yang penuh dengan makanan”. Kita disadarkan betapa kebiasaan yang kerap kita lakukan ketika berbuka dengan menyantap berbagai jenis makanan sampai kenyang merupakan hal yang bisa menjauhkan kita dari peningkatan kualitas puasa.

Bahkan, tak jarang kita memakan makanan pada malam hari di bulan Ramadhan lebih banyak dari hari-hari di bulan biasanya. Padahal, seperti dijelaskan Al-Ghazali, tujuan dari puasa adalah mengosongkan perut dan mematahkan hawa nafsu agar jiwa kuat guna meningkatkan ketakwaan. Namun, jika kita hanya menahan lapar di siang hari, lalu ketika tiba waktu berbuka langsung melampiaskan nafsu secara berlebihan, maka ruh puasa—sebagai upaya memperlemah kekuatan fisik guna menutup saluran setan yang mendorong pada nafsu dan dosa—menjadi tak tercapai. Wallahu a’lam.

 

 

Penulis                    : Al-Mahfud/Penulis merupakan lulusan STAIN Kudus

Editor                      : Mauliya Redyan Nurjannah

 

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *