Sejak istrinya meninggal dunia sebulan lalu, lelaki yang usianya pada tahun ini menapaki angka 72 itu memilih menjadi seorang pengemis. Ia memutuskan untuk menjadi seorang pengemis bukan lantaran karena ingin atau tergiur dengan kekayaan para pengemis yang pernah ia saksikan dengan mata kepala telanjang. Ia pernah menyaksikan sebagian pengemis sengaja menjadikan pengemis sebagai profesi tetap yang penghasilannya bisa berlipat-lipatnya gaji seorang guru honorer alias GTT (Guru Tidak Tetap).

Dulu, beberapa puluh tahun silam, lelaki tua itu pernah memiliki impian sederhana yang ingin segera diwujudkan usai menikah. Impian yang saya yakin banyak diinginkan oleh setiap orang yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga. Memiliki momongan. Agar kelak garis keturunannya tak terputus. Agar kelak ketika ia tiada, masih ada anak yang akan terus mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya. Agar di hari tua nanti ia tak diselimuti. Itulah sederet impian sederhana lelaki tua itu yang hingga usianya kian condong ke ufuk barat tak pernah berbuah menjadi kenyataan. Ya, karena usai menikah, Tuhan tak kunjung menganugerahi keturunan. Entah siapa yang mandul, ia ataukah sang istri, karena mereka berdua tak pernah berani memeriksakan diri ke dokter.

Maka, ketika istrinya yang sangat ia cintai telah pergi menghadap Ilahi, lelaki tua itu benar-benar diselimuti kesepian. Rasa sepi yang sangat menyiksa dan menggigilkan jiwa serta raga. Sementara tenaganya yang kian hari semakin bertambah lemah, tak lagi mampu bekerja sebagai petani yang kesehariannya bergelut dengan terik mentari di ladang milik para tetangga yang kaya-raya. Maklum, meskipun berjiwa petani sejati, tetapi ia bukanlah keturunan keluarga kaya yang memiliki berhektar-hektar sawah sebagaimana para tetangganya yang lain. Usia yang semakin menua, kondisi fisik yang mudah merasa lelah, serta tenaga yang tak lagi perkasa membuat para tetangga enggan memintanya untuk menggarap sawah sebagaimana waktu ia masih muda dulu.

***

Akhirnya, untuk menyambung hidup yang kian sulit, lelaki tua itu pun memilih menjadi pengemis yang kesehariannya (tiap pagi hingga sore, bahkan kadang sampai larut malam) mangkal di pinggir-pinggir jalan. Bagi si lelaki tua membutuhkan waktu setengah jam dengan berjalan kaki untuk tiba di jalan beraspal mulus tersebut dan selanjutnya bergabung bersama mereka, ratusan para pengemis beragam usia yang kesehariannya duduk sambil menggenggam payung dan menengadah tangan di pinggir jalan yang kanan-kirinya dikelilingi hutan pinus yang begitu lebat dan rindang. Meskipun jalan raya tersebut berada di area hutan lebat dan beraspal mulus, tapi lalu lalang kendaraan begitu padat. Karena jalan yang agak menanjak dan memiliki beberapa kelokan yang cukup tajam,  membuat para pengendara harus ekstra hati-hati karena jalan tersebutlah yang menjadi jalan pintas menuju pusat kota.

Biasanya orang-orang yang merasa iba kepada para pengemis jalanan itu adalah mereka: para pengendara mobil atau truk tronton. Ketika sedang terjebak macet panjang, sebagian dari mereka akan membuka kaca mobil sedikit, lalu mengeluarkan telapak tangan lekas-lekas dan melemparkan koin atau lembaran uang ke para pengemis yang jumlahnya entah mengapa kian bertambah dari hari ke hari, waktu ke waktu. Terlebih saat jelang Lebaran atau ketika musim liburan sekolah tiba.

***

“Heh pengemis tua, minggir sana, ini daerah kekuasaanku,” seorang lelaki paruh baya tiba-tiba datang dan berkata dengan nada kasar kepada pengemis tua yang sedang duduk melamun bersandar pohon di tepi jalan.

“Mengapa kau mengusirku? Aku berada di sini sudah sejak seminggu yang lalu,” balas pengemis tua itu dengan raut wajah tak suka. Dasar manusia tak punya tata krama, tak punya sopan santun, bicara sama orang yang lebih tua kok sekasar itu, gerutu pengemis tua dalam hati sambil berusaha menahan emosi yang menyulut dan berkobar dalam dadanya.

“Heh, pergi tidak, jangan banyak bacot, ya?” lelaki paruh baya berbaju lusuh penuh tambalan yang fisiknya masih sangat bugar itu tiba-tiba menyambar dan meringkus payung milik pengemis tua. Pengemis tua itu sampai terhuyung dan akhirnya terjatuh karena sebelah tangannya berusaha menahan payung miliknya.

Karena tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi pada dirinya, maka pengemis tua itu pun memilih pergi dan mencari tempat lain. Susah payah ia bangkit sambil mengambil payung yang barusan dilemparkan oleh lelaki kurang ajar itu. Dengan berpegangan tongkat kayu, pengemis tua itu berjalan tertatih-tatih di tepi jalan berbatu dan mencari tempat lain yang lebih strategis dan teduh. Sementara di dalam lubuk hati terdalam ia berdoa semoga ada tangan-tangan mulia yang sudi menyisihkan sebagian rezeki mereka kepada dirinya.

Sementara itu, lelaki paruh baya yang berpenghasilan melebihi gaji para GTT itu tersenyum licik penuh kemenangan ketika melihat kepergian si pengemis tua.

 

 

Penulis           : Sam Edy Yuswanto / Penulis penuh waktu di berbagai media massa

Salah satu kumpulan cerpen miliknya ialah Kiai Amplop

Sumber Foto : kompasiana.com

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *