Umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadhan 1441 H/2020 M. Di Indonesia, puasa Ramadhan serentak dilaksanakan mulai pada Jumat (24/4). Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, karena Indonesia belum zero Covid-19. Alih-alih zero Covid-19, justru penyebarannya semakin meluas. Hal ini tidak hanya menimbulkan dampak kesakitan, jatuh korban jiwa dan memaksa umat Islam menjalankan ibadah puasa dalam suasana yang berbeda, melainkan juga mengancam stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat.

Perkembangan mutakhir terkait pandemi Covid-19 di Indonesia menyebutkan, jumlah penderita sampai saat Ramadhan tiba masih belum menunjukkan adanya penurunan. Fakta lapangan mengkonfirmasi bahwa korbannya semakin membuncah. Satu hal yang perlu diketahui dan menjadi perhatian kita bersama adalah, penyebab utama meluasnya Covid-19 adalah interaksi yang terlalu dekat dengan orang yang membawa Covid-19. Hal ini juga senada dengan himbauan dari organisasi kesehatan dunia, yakni World Health Organization (WHO) karena virus yang terkonfirmasi pertama kali menyerang warga Wuhan China diketahui menular melalui manusia ke manusia lain. Dengan kata lain, virus ini dapat berpindah dan mencari inang baru dalam tubuh manusia melalui droplet yang keluar dari mulut dan hidung orang yang terpapar Covid-19.

Oleh sebab itu, pemerintah tentu saja berdasarkan kajian mendalam dengan para ahli di bidang kesehatan dan bidang lainnya—membuat kebijakan untuk menghadapi Covid-19 ini dengan istilah physical distancing (jaga jarak fisik). Kebijakan ini kemudian berkembang menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Konsekuensinya, seluruh aktivitas masyarakat (bekerja, belajar dan ibadah) dikerjakan di rumah.

Namun dalam praktek di lapangan, kebijakan pemerintah tersebut menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Tak jarang masyarakat salah menilai kebijakan pemerintah, sehingga kebijakan yang dimaksudkan untuk kebaikan bersama, justru dimaknai negatif oleh sebagian masyarakat. Bahkan yang miris, ada yang mempelintir kebijakan pelarangan shalat berjamaah di masjid misalnya, sebagai bentuk atau cara pemerintah mendzolimi umat Islam.

Ironi semakin dalam ketika sebagian umat Islam, termasuk di dalamnya adalah mereka yang dianggap sebagai ulama dan mubalig (pemuka agama), ‘gagal fokus’ dalam memahami tujuan Islam secara komprehensif dan sikap kurang tepat dalam menghadapi wabah Covid-19. Hal ini dapat berpotensi besar menyebabkan bahaya atas umat Islam sendiri. Di antara sikap dan pemahaman atau perspektif yang tidak tepat itu antara lain, menganggap bahwa pelarangan shalat jamaah di masjid dengan melibatkan banyak orang sebagai larangan beribadah. Padahal, pelarangan yang dimaksudkan dalam konteks ini bukan pada shalat jamaah di masjid, melainkan ‘aktivitas berkumpul’ yang dilarang karena dapat memperunyam penyebaran Covid-19.

Dari sini timbul sebuah pertanyaan mendasar, namun menuntut untuk segera mencari jawaban atas pertanyaan tersebut guna meyakinkan dan meluruskan pandangan sebagian umat saat ini. Apalagi, masalah ini timbul di tengah narasi-narasi keagamaan yang membayakan, jika tidak ingin dikatakan sebagai ‘menyesatkan’ umat. Ya, pertanyaan yang dimaksud adalah: Adakah ‘bantalan spiritual’ (cantolan, landasan, pedoman, dalil, dan panduan) dalam Islam untuk menghadapi Covid-19?

 

Bantalan Spiritual

Tentu saja jawaban atas pertanyaan itu sangat jelas, yakni ada. ‘Bantalan spiritual’ ini tidak hanya sekedar menghantarkan pada pemahaman kaidah syariat secara komprehensif, melainkan juga menyelamatkan umat dari bahaya. ‘Bantalan spiritual’ atau dalam istilah fikih jamak disebut sebagai ‘Fikih Pandemi’, yakni sebuah upaya untuk merumuskan cara pandang dan strategi keagamaan Islam untuk mengatur dan menghadapi Covid-19 ini berdasarkan dalil-dalil dalam Al-qur’an dan hadis.

Pertama, mewujudkan tujuan pokok Islam. Islam memiliki lima tujuan pokok, yaitu melindungi agama (hifdh al-dîn), melindungi jiwa (hifdh al-nafs), melindungi keturunan (hifdh al-nasl), melindungi akal (hifdh al-‘aql), dan melindungi harta (hifdh al-mâl). Maka, segala aktivitas umat, harus dilaksanakan dengan prinsip untuk mewujudkan tujuan pokok dalam Islam.

Covid-19 merupakan virus yang sistemik dan dapat meluluhlantahkan aspek fundamental kehidupan, seperti ekonomi, sosial, jiwa, keturunan dan akal. Melihat fakta ini, dalam menghadapi Covid-19, apapun yang berpotensi merontokkan kelima tujuan pokok Islam ini mesti dihindari terlebih dahulu. “Jamaah di masjid yang hukumnya sunnah dan perkumpulan lain yang melibatkan banyak orang, untuk sementara dihindari terlebih dahulu”, inilah terjemahan sederhananya. Dalam QS:Al-baqarah [2]: 195, Allah berfirman agar umat Islam jangan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.

Langkah beribadah di rumah sesuai dengan kaidah yang dirumuskan oleh para ulama seperti ibadah tidak boleh menimbulkan bahaya bagi dirinya sendiri atau membahayakan orang lain. Kaidah ini disarikan dari hadis Nabi: “lâ dharara wa lâ dhirâr”, yang diriwayatkan dalam Ibnu Majah dari Ibn ‘Abbas (Lihat: A. Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih, 2006: 68). Kaidah lain yang relevan dengan kondisi Covid-19 yaitu, “Dar’u al-mafâsid muqaddamun ‘alâ jalbi al-mashâlih (mencegah kerusakan lebih didahulukan ketimbang mengupayakan kemaslahatan). Ini juga senada dengan hadis yang diriwayatkan dalam dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi bersabda: “Janganlah (unta) yang sakit itu didekatkan dengan (unta) yang sehat.”

Kedua, Islam itu rasional dan menjunjung tinggi saintifik. Sementara ini banyak beredar narasi yang seolah rasional tetapi sesungguhnya mereka sedang mendangkalkan ajaran Islam. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari narasi berikut ini yang sempat viral di media sosial: “Tetaplah berjamaah di Masjid! Jangan mau ditakut-takuti dengan ancaman virus Corona. Masjid adalah rumah Allah dan virus Corona adalah ciptaan Allah. Di sini logika keimanan kita diuji. Kalau kalian bener-bener beriman, untuk apa takut? Allah SWT yang mengatur semua itu, dan apabila ajal kita dijemput di Masjid, Insya Allah akan dimatikan dalam keadaan Husnul Khatimah.

Jika yang mengatakan pernyataan di atas adalah orang awam, tentu saja tidak begitu menimbulkan persoalan yang berarti. Namun, pernyataan sebagaimana di atas justru dikampanyekan oleh mereka yang dikenal sebagai ulama, ustadz, dan kiai (tokoh agama). Studi Asep Nurjaman (2018: 118) menyebutkan bahwa tokoh agama tidak sekedar sebagai orang yang ditaati dalam dan dipatuhi oleh masyarakat dalam ranah agama dan adat, melainkan juga sosial dan politik. Santak, pernyataan tersebut sekali lagi, sangat mungkin akan membahayakan umat.

Memang benar bahwa penentu hidup mati adalah Allah, dan karena itu jika ditakdirkan belum mati, maka tidak akan mati disebabkan Covid-19. Sebagai seorang hamba, tentu saja kita takut kepada Sang Pencipta. Namun, sebagai manusia, tidak ada salahnya jika kita takut dengan Corona. Toh, agama juga memberikan panduan agar menghindari penyakit yang dapat mengancam keselamatan manusia. Mestinya, umat Islam dengan agama yang rasional, memahami paradigma saintifik yang ada di dalam al-Qur’an dan hadis, juga memahami paradigma di dalam keduanya secara komprehensif, sehingga tidak menarik kesimpulan secara salah (Mohammad Nasih, 2020).

Sikap fatalistik tersebut sejatinya tidak memiliki bantalan spiritual yang jelas dalam al-Qur’an dan hadis. Justru di dalam al-Qur’an dan hadis banyak sekali yang menekankan tentang usaha. Dalam hadis misalnya, dengan jelas Nabi Muhammad memberikan petunjuk bagi umat Islam agar menghindari wabah sebagaimana lari dari singa. Jadi, rasional dan sikap ilmiah merupakan ajaran dalam Islam.

Ketiga, bertanya kepada ahli. Agama juga memberikan petunjukan bagi umatnya untuk menanyakan sesuatu pada ahlinya. Allah berfirman: “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui”, (QS. An-Nahl: 43). Ahlu al-Zikr (orang berilmu, pakar dalam bidangnya), dalam hal ini adalah dokter. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dalam urusan pandemi Covid-19 misalnya, tak ada salahnya, bahkan sudah seyogyanya kita menaati petunjuk medis dalam menghadapinya. Jika para medis memberikan himbauan agar ketika berinteraksi dengan orang lain kita harus menjaga jarak, maka ikutilah.

Islam adalah agama yang sempurna, namun kesempurnaan itu seringkali ditutup-tutupi oleh umatnya sendiri dengan pemahaman yang kaku dan menyulitkan. Dalam menghadapi wabah seperti Covid-19 misalnya, Islam sudah memberikan panduan yang jelas. Mestinya, sebagaimana ditegaskan oleh Nasih (2020), umat Islam memberikan contoh terbaik dengan menjalankan ajaran Islam yang memudahkan, bukan justru bertindak yang berlebihan yang akan menyulitkan, bahkan membayakan jiwa umat. Sikap berlebihan dalam beragama dengan tanpa ilmu pengetahuan itu juga dilarang dengan sangat tegas oleh al-Qur’an (baca: QS. Al-Maidah: 7).

Keempat, jangan berlebihan dalam beragama. Di era Covid-19 yang sudah nyata memakan korban, justru masyarakat, yang tentu saja karena arahan tokoh agama di lingkarannya, melakukan ibadah dengan tanpa memperdulikan adanya Covid-19 ini. Para ahli kesehatan dengan tegas dan suara bulat mengatakan bahwa aktivitas berkumpul seperti melakukan shalat jamaah di masjid berpotensi menyebabkan jamaah terpapar Covid-19. Sebab, virus ini sifatnya tidak kasat mata, maka diantara jamaah bisa jadi membawa virus. Dengan adanya potensi ini, dapat disimpulkan bahwa melakukan ibadah lebih baik dilakukan di rumah saja.

Namun, masih saja ada masyarakat, bahkan kalangan agamawan yang ngotot untuk tetap menjalankan ibadah shalat berjamaah di masjid. Semangat mereka meraih pahala berlipat shalat berjamaah di masjid di tengah pandemi justru mencerminkan sikap berlebihan dalam beragama, yang oleh al-Qur’an, cara seperti ini justru dilarang. Misalnya dalam QS:Al-maidah [5]: 77, Allah berfirman: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Ramadhan 1441 H/2020 M di tengah pandemi Covid-19 harus dijadikan sebagai momentum untuk menggali makna dan kandungan al-Qur’an dan hadis untuk merespon fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Belajar harus didahulukan, barulah beramal. Berkaitan dengan ini, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: “Barang siapa beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang diperbuat lebih banyak daripada kebaikan yang diraih.” (Majmu’ah al-Fatawa, 2:382).

Dalam menghadapi masa pandemi seperti saat sekarang ini, umat harus dipahamkan dan dituntun agar tidak bingung dan salah dalam bersikap. Oleh sebab itu, diperlukan pijakan atau bantalan spiritual yang tepat dan pemahaman yang komprehensif atas ajaran Islam sehingga segala persoalan hidup, termasuk wabah Covid-19, dapat dihadapi dan diselesaikan dengan baik. Inilah pentingnya memahami Islam secara komprehensif, utamanya di saat Covid-19 ini. Sebab, pemahaman yang salah—tidak komprehensif, apalagi pemahaman ini disampaikan oleh tokoh agama, justru akan membahayakan umatnya sendiri.

 

 

Penulis                   : Muhammad Najib/ Penulis merupakan Dosen Islamic Studies di STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta, Direktur Rumah Kader Abana Institute

Editor                     : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar : Mu’arifatur Rahmah

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *