Aku menyilangkan tangan, mengkal. Tua bangka berpangkat guru di hadapanku ini sama saja dengan menjilat ludah sendiri. Sudah jelas dia bilang bahwa semua orang bebas bermimpi, lah ini mimpiku malah dia hentikan. Dasar tua bangka tak berguna.

“Jawab pertanyaan Bapak! Kenapa kau ingin jadi bodoh?” lantangnya.

Berulang kali pertanyaan itu mampir ke telingaku. Tapi otakku malas merespon, lebih tepatnya tidak peduli dengan pertanyaan itu. Aku lebih memilih melempar tatapan ke luar jendela.

Nampak di lapangan sekolah, burung layang-layang tengah terbang bebas. Mereka asyik menganggu satu sama lain. Salah satu burung itu terbang rendah mengarahkan pandanganku ke segerombolan siswa laki-laki yang tengah menggotong seorang temannya. Mereka bersorak-sorak, ceria. Tepat ketika ada seorang gadis yang sedang duduk di bangku taman, mereka meletakkannya dan berteriak, “Tembak-tembak!”.

Lihat! Bukankah itu tindakan bodoh? Tapi kelakuan itu membuat mereka tertawa lepas. Terlebih saat si gadis hanya mengabaikan siswa laki-laki itu.

Sebal dengan pemandangan yang aku dapat, aku kembali menatap Pak Umar.

“Sudahlah, Pak. Tidak ada gunanya mendebatkan harapan masing-masing. Bukankah Bapak sendiri yang bilang kalau harapan itu boleh apa aja? Saya ingin jadi bodoh, dan itu harapan saya. Apakah ada yang salah?”

Aku tersenyum sinis. Nampaknya kemenangan benar-benar tak memihak Pak Umar. Seandainya saja nilai ulangan kemarin normal-normal saja, pasti guru BK ini akan diam saja.

Rasa-rasanya baru kemarin aku sengaja membuat nilai ulangan sedikit hancur. Ditambah lagi dengan sikap abai yang kulempar ke semua guru. Saat mereka menyuruhku untuk maju menerangkan, aku menggeleng mantap. Hal sepele sebenarnya, bahkan jika itu anak lain pasti tidak akan dipanggil ke ruang BK. Tapi aku? aku yang merupakan salah satu andalan sekolah dalam olimpiade matematika, sungguh diperhatikan oleh para guru. Jancuk.

Bahkan bukan hanya guru tapi juga dengan teman sekelas. Di saat yang lain sedang bermain, aku terperangkap dengan berpuluh soal-soal menyebalkan. Belum lagi berjuta pertanyaan dari teman sekelas yang minta diajari ulang mengenai materi ini dan itu. Sempurna semuanya menyita waktu berhargaku.

Senang memang. Diperhatikan oleh banyak orang membuatku sedikit bangga. Tapi ketika mereka berhasil aku pahamkan, mereka pergi begitu saja. Meninggalkanku dengan sepi. Lambat-laun, aku mulai sadar bahwa kehidupanku hanya seperti huruf-huruf aljabar dalam matematika. Jika butuh dipakai, jika tidak ditinggal.

“Saya rasa, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak. Untuk itu, saya pamit,” pungkasku.

Aku berdiri dan langsung menuju ambang pintu.

“Tunggu!”

Langkahku spontan terhenti.

“Tutup pintunya dan duduk kembali, cepat!”

Bentakan itu membuatku mengkal. Apa sebenarnya maunya tua bangka ini?

“Kau belum menjelaskan alasanmu untuk jadi bodoh.”

Pertanyaan itu memutar kembali memori lama. Memori yang tentu ingin kubuang jauh-jauh. Kejadian itu sudah terjadi satu bulan yang lalu, tapi suaranya masih kuingat hingga kini. Sering kali suara itu membuat tidur tak nyenyak, makan tak enak, dan bangun tak sedap. Dialah alasanku. Alasan terkuat kenapa aku ingin jadi bodoh.

“Kamu tahu soal nomor ini nggak?” tanya Diana pada suatu waktu.

“Ini tuh gini,” jawabku spontan.

Pelan, namun gamblang. Jenis soal matematika ini sudah berulang kali ditanyakan oleh teman-teman lain sebelumnya, jadi gampang saja untuk menjelaskannya kembali.

“Terima kasih, An. Kamu memang pandai.”

Berulang kali telinga ini mendengar sanjungan dari orang lain, tapi sanjungan dari Diana benar-benar terasa berbeda. Sanjungan itu terasa seperti setetes embun di subuh hari, sangat menyejukkan. Setiap kali dia dekat denganku, ingin rasanya kuhentikan waktu. Sayang, hal itu hanya berlangsung sekejap saja. Diana seperti teman yang lain. Saat dia paham dengan materi yang kujelaskan, gadis itu pergi begitu saja. Lagi-lagi hanya kesunyian yang setia menemaniku.

Aku menyapu pandang. Terlihat jelas di pojok kelas, ada anak laki-laki yang tengah bermain poker. Di barisan sebelah kanan ada gadis-gadis sedang bergosip ria. Mereka semua berkumpul. Riuh canda dan protes mereka terdengar menendang-nendang gendang telinga. Semuanya sibuk dengan teman mereka masing-masing. Sedang aku? Aku terpaku sendiri di bangku paling depan, menatap nanar soal-soal. Mereka seakan tak acuh dan menganggapku patut untuk dilupakan.

Kian hari, kesendirianku kian mencekik. Kepintaran, reputasi, bahkan juara kelas tak mampu membawa tawa lepas berada di wajah ini. Aku mencoba berpikir ulang mengenai semua hal. Beberapa saat kemudian, tersentil sebuah pikiran di otakku. Angka satu itu sama sekali tak mempunyai pasangan, seperti halnya diriku ini, maka agar tak lagi menjadi angka satu, aku harus jadi bodoh.

***

“Saya lelah jadi pintar, Pak.”

Meski ruangan BK ini ber-AC, aku kian merasa panas. Sofa bercorak macan tutul ini, sama sekali tak terasa nyaman. Dua kursi di sisiku kosong, hanya aku dan Pak Umar yang menempati ruangan ini, tapi itu sudah cukup untuk membuat nafasku tersendat-sendat. Sorot mata guru BK ini benar-benar memuakkan.

“Itu bukan alasan!” lagi-lagi satu bentakan terdengar begitu menggelegar.

“Kan sudah saya bilang, Pak. Harapan itu privasi, jadi bebas dong saya berharap ingin jadi apa.” Aku tak mau kalah.

“Kau tahu, akibat kau bersikap seperti ini, banyak guru yang komplain. Tidak hanya guru, bahkan kepala sekolah yang hendak mengajukan kau sebagai perwakilan sekolah pun jadi ragu. Mungkin karir olimpiademu akan berakhir di kelas sebelas ini.”

“Bagus dong. Justru itulah tujuan saya. Jika semua waktu untuk sekolah ini, kapan saya bisa bergaul dengan teman-teman sekelas?”

Lengang. Sepertinya kalimatku cukup berat untuk didebat. Aku yakin, jika Pak Umar aku kalahkan, guru yang lain pun tak akan protes dengan impianku ini. Nahas, apa yang kupikirkan ternyata hanyalah ekspektasi belaka. Pak Umar membuka mulutnya kembali.

“Perlu kau ketahui, kepintaranmu itu adalah anugerah dan anugerah tidak bisa diubah. Yang bisa diubah hanyalah sikap. Tak peduli betapa bodohnya dirimu, jika kau tetap merasa tinggi daripada yang lainnya, kau tetap tidak akan punya teman.”

Kini perkataan Pak Umar yang membuatku bungkam. Tak ada kata yang mampu untuk menampik kembali perkataan guru ini.

“Renungkanlah!”

Pak Umar beranjak pergi, beliau keluar mendahuluiku.

Wajahku terlipat. Beribu logika kubangun untuk dapat menyalahkan argumen Pak Umar, tapi nahas usaha itu gagal. Hati nurani diam-diam membenarkan argumen itu. Mungkin bukan hanya hati nurani, melainkan kenyataan yang aku alami juga membenarkan hal tersebut. Sudah dua minggu semenjak aku menurunkan prestasi, namun aku tetap hanya bertemankan sepi.

 

 

Penulis                   : Fasihi Ad Zemrat / merupakan nama pena dari Amin Arifin, seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Novel yang telah ia terbitkan berjudul “Dengarlah Hujan Berbicara.” Karya cerpennya pun dimuat dalam beberapa media digital serta dalam ontologi cerpen dengan judul Yang Merinai Kinanti di Osaka dan Pohon Keluarga.

Editor                     : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar  : M. Fadel Assidiq

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *